Posts tagged ‘Pertanian’

03/07/2012

Kemarau, Kesulitan Air di Purworejo Mulai Terasa

Kesulitan air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Purworejo mulai terasa. Bahkan Desa Bendungan Kecamatan Grabag, Senin (2/6) sudah mengajukan permohonan bantuan kiriman air bersih di Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Purworejo.

Kesulitan air bersih ini menurut Kepala

13/03/2012

Sub Terminal Agri Bisnis Purworejo Macet


Sub Terminal Agri (STA) Bisnis Kabupaten Purworejo di Desa Krendetan Kecamatan Bagelen tidak berfungsi. STA ini merupakan program andalan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo untuk memasarkan produk-produk pertanian, dan telah diresmikan penggunaannya oleh Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg tahun lalu.

Namun selama ini tidak pernah ada aktifitas perdagangan di lokasi yang berdampingan dengan Pasar Krendetan ini. “Belum pernah berjalan. Tidak ada pedagang yang menempati,” kata Ny Yuhro (59) salah seorang pedagang di Pasar Krendetan, Senin (12/3).

Dikatakan,

08/07/2011

Berburu Jerami sampai ke Purworejo

PURWOREJO – Para peternak sapi kini benar-benar merasakan dampak musim kemarau. Mereka saat ini kesulitan mencari pakan tenak. Begitu sulitnya mencari rumput segar, jerami sisa panen pun diburu oleh para peternak sapi dari luar daerah. Sudras, 38, warga Brosot, Kulonprogo mengungkapkan, dia terpaksa harus mencari jerami hingga ke Purworejo. Selain kesulitan mencari rumput segar, di daerahnya, musim panen sudah berlalu sehingga sulit mendapatkan jerami.
’’Di Kulonprogo kami sudah kesulitan mencari jerami untuk pakan sapi karena musim panen sudah menyusut tajam,’’ kata Sudras sembari mengangkut jerami dari sawah milik warga Desa Wangunrejo, Purwordadi, kemarin (7/7).
Sudras menuturkan, setiap dua hari sekali dia harus berburu jerami ke berbagai daerah untuk pakan ternaknya. Purworejo menjadi wilayah terdekat perburuan jerami itu.
’’Saya membutuhkan jerami hingga setengah kuintal untuk dua ekor sapi milik saya selama dua hari. Saya

18/01/2011

DESA DI KABUPATEN PURWOREJO

A

1 Aglik, Grabag, Purworejo
2 Andong, Butuh, Purworejo
3 Awuawu, Ngombol, Purworejo

B

4 Bagelen, Bagelen, Purworejo
5 Bajangrejo, Banyuurip, Purworejo
6 Bakurejo, Grabag, Purworejo
7 Baledono, Purworejo, Purworejo
8 Bandung Kidul, Bayan, Purworejo
9 Bandung, Kutoarjo, Purworejo
10 Bandungrejo, Bayan, Purworejo
11 Banjarejo, Bayan, Purworejo
12 Banjarsari, Purwodadi, Purworejo
13 Banyu Urip, Banyuurip, Purworejo
14 Banyuasin Kembaran, Loano, Purworejo
15 Banyuasin Separe, Loano, Purworejo
16 Banyuyoso, Grabag, Purworejo
17 Bapangsari, Bagelen, Purworejo
18 Bayan, Bayan, Purworejo
19 Bayem, Kutoarjo, Purworejo

25/03/2010

Tikus serang 5 ha sawah

PURWOREJO – Hama tikus menghacurkan padi milik petani di Kelurahan Sindurjan, Kecamatan/Kabupaten Purworejo.Tidak tanggung-tanggung, sedikitnya lima hektar sawah milik petani habis, tiga hektar di antaranya gagal panen dan harus ditanam ulang.

Akibatnya, sejumlah petani mengaku rugi hingga puluhan juta rupiah, akibat gagal panen. Padahal, serangan hama tikus ini sebelumnya sudah diantisipasi waga dengan menggropyok tikus. Namun, karena jumlah tikus yang banyak, warga tak berdaya.

Salah seorang petani, Raharjo (42), warga Ngrapah RT 02 RW 04 Sidurjan menuturkan, tanaman padi yang ditanam di sawah miliknya seluas 350 ubin ludes dimangsa tikus. Serangan tikus terjadi secara sporadis, bahkan semakin mengganas setelah dilakukan perburuan terhadap mereka.

“Sebelumnya sempat dilakukan pembasmian tikus secara manual dengan cara diburu.Dua karung tikus dapat kami kumpulkan. Namun serangan hama tikus bukannya mereda, tetapi justru semakin ganas. Gantian padi kita yang digasak tikus, sehingga kita harus menanam ulang,” ujarnya.

Petani lainnya, Narso (51) Warga Ngrapah RT 04 RW 04 mengatakan, petani kebanyakan menanam padi jenis IR 64. Tidak kalah dibanding sawah-sawah di daerah selatan Purworejo, produksi padi di Ngrapah dan Sindurjan sebenarnya cukup bagus karena pasokan air juga cukup lancar.

“Petani di sini sedang tidak beruntung. Padi saya habis ketika dua minggu sebelum dipanen. Padi sudah meratak atau menguning, tapi tikus menyerang tidak kenal waktu siang dan malam,” ujarnya.

Para petani berharap, agar pemerintah bisa membantu mencarikan solusi untuk menagtasi hama tikus yang merajalela ini. Pasalnya, kalau tidak diatasi secara serius, dikhawatirkan petani akan merugi pada masa tanam berikutnya.Di satu sisi, petani berharap ada bantuan untuk membasmi tikus.

Sumber : wawasan

Tag:
25/03/2010

Potensi Udang Vanname Perlu Dikembangkan di Purworejo

Kelompok Perikanan (Kelomper) Vanname Jaya Desa Gedangan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Rabu (24/3) berhasil melakukan panen perdana udang Vanname. Udang jenis ini dikembangkan di lahan tambak air payau dengan memanfaatkan dana bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Mayarakat Kelautan dan Perikanan (MPP) tahun 2009.

Panen perdana dilakukan Pelaksana tugas (Plt) Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MSi, namun berapa hasil secara keseluruhan dari panen perdana ini, belum diperoleh keterangan, karena panen akan dilakukan secara berjenjang.

Menurut Mahsun Zain, jika masyarakat pesisir selatan Purworejo mampu mengolah lahan tambak untuk produksi ikan, Purworejo tidak akan mendatangkan investor. “Saya punya rekan pengekspor ikan, tapi jika masyarakat kita sudah mampu membudidayakan dan mengolah sendiri, biarlah dikelola masyarakat saja,” tandasnya.

Sementara itu Ketua Kelomper Vanname Jaya Tumiran (45) kepada KRjogja.com mengatakan, lahan tambak rakyat ini baru pertama kali ini dikembangkan untuk perikanan udang secara bersama-sama.

“Untuk kelompok Vanname Jaya saja mengelola tujuh petak tambak,” katanya seraya menambahkan, satu petak rata-rata berukuran 2.000 x 2.000 meter. Dan panen perdana ini baru dilakukan untuk tiga petak tambak.

Sedang benih udang dibelinya dari Tuban Jawa Timur, dan berhasil dipanen dalam tempo tiga bulan.

Sementara itu pengalaman sebagai petani tambak yang membudidayakan jenis udang di air payau sempat membuat bingung para kelompok budidaya. Terlebih saat awal penebaran benih, banyak benih yang stres karena kekurangan oksigen. Akibatnya tingkat kematian mencapai lebih dari 10 persen.

“Sampai beberapa hari kita tidak bisa tidur karena setiap malam menjaga tambak. Udang yang stres langsung mengambang. Padahal kita belum memiliki kincir,” jelas Sutrisno Saputro salah seorang petani tambak Desa Gedangan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo kepada KRjogja.com di sela-sela panen perdana udang Vanname di lokasi tambak desa setempat, Rabu (24/3).

Benih udang yang dibelinya dari Jawa Timur itu, sesampainya di Desa Gedangan, kondisinya menjadi kurang sehat. Selama dalam perjalanan sangat kekurangan oksigen. Begitupun setelah ditebar di tambak, banyak benih udang yang lemas. “Kalau sudah begitu kita harus segera mengambil diesel untuk menggerakkan air,” aku Sutrisno.
Padahal harga benih udang ini sudah mencapai Rp 30 per ekor, dan setiap petak tambak rata-rata ditebar 10 ribu ekor benih.

“Hasilnya memang lumayan, dari 10.000 ekor itu bisa menghasilkan sekitar dua kwintal, selama kurang lebih tiga bulan,” jelas Sutrisno yang mengaku, meskipun tingkat kematian masih cukup tinggi, namun diyakini hasil tambak udangnya tetap akan untung.

sumber:kedaulatanrakyat

14/03/2010

Perbaikan Tanggul Bogowonto Butuh Rp 1 Miliar

Purworejo, CyberNews. Perbaikan tanggul sungai Bogowonto yang jebol di Desa Penungkulan, Kecamatan Gebang, Purworejo pekan lalu ternyata membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Dalam rencana anggaran biaya (RAB) yang sudah dihitung Dinas Pengairan, kebutuhan anggarannya tidak kurang dari Rp 1 miliar.

Kepala Dinas Pengairan Ir Susanto yang dimintai konfirmasi di kantornya Minggu (14/3) mengungkapkan, kebutuhan anggaran perbaikan sebesar itu tidak mungkin jika hanya dibebankan pada APBD II Kabupaten Purworejo. “Beban APBD II sudah sangat berat, apalagi tahun ini ada Pilkada,” katanya.

Di samping itu, lanjutnya, perawatan dan perbaikan kerusakan daerah aliran sungai (DAS), termasuk Bogowonto bukan merupakan kewenangan Pemkab, tapi menjadi otoritas Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO).

Namun demikian, katanya, karena kerusakan DAS itu berada di wilayah Kabupaten Purworejo, suka atau tidak suka Pemkab harus tetap “cawe-cawe”.

Terlebih kerusakan itu bisa membawa dampak yang serius, baik bagi masyarakat sekitar maupun infrastruktur bendung Penungkulan yang ada di bawah tanggul yang jebol tersebut.

“Bagaimanapun juga Pemkab tidak bisa tutup mata karena kerusakannya berada di wilayah sini. Justru Pemkab punya kepentingan sangat besar untuk segera diperbaikinya kerusakan itu agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih parah,” katanya.

Diungkapkan Susanto, dalam perencanaan dan penghitungan teknis, setidaknya tanggul yang paling mendesak untuk segera diperbaiki panjanganya mencapai 60 meter.

Namun, untuk mencegah jebolnya tanggul lagi, perlu dilakukan penataan DAS dengan memperkuat tanggul sepanjang 150 meter.

Perbaikan Manual ditanya soal teknis perbaikan, Susanto menjelaskan tanggul yang jebol itu tidak mungkin hanya ditutup menggunakan karung yang diisi material tanah. Aliran air di sungai Bogowonto yang cukup deras bisa menjebol tanggul lagi.

Konstruksi yang diperlukan tetap bronjong yang diisi material baru. Perbaikan, katanya, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pasalnya, medannya yang sulit tidak memungkinkan alat berat bisa sampai kelokasi.

“Perbaikannya hanya bisa dilakukan secara manual. Butuh waktu antara dua hingga tiga bulan baru bisa selesai,” katanya.

Susanto mengungkapkan, hasil koordinasi terakhir, BBWSO sudah siap memberikan material batu dan bronjong. Sedangkan pekerjannya ditanggung oleh dana APBD. “Karena nilainya lebih dari Rp 50 juta, pekerjaan perbaikan akan tetap dilelang supaya tidak menimbulkan persoalan hukum,” katanya.

12/03/2010

Petani Purworejo Protes Rencana Kenaikan Harga Pupuk

Petani di Kabupaten Purworejo memrotes rencana kenaikan harga pupuk urea yang akan dilakukan pemerintah pada April 2010. Petani menilai, pendapatan yang mereka peroleh sudah kecil meski tanpa kenaikan harga pupuk urea. Petani di Desa Laban Kecamatan Ngombol, Kelik mengatakan, petani akan makin terjepit jika pemerintah menaikkan harga jual pupuk urea. “Biaya produksi akan meningkat drastis, kami mau makan dari mana,” ujarnya kepada KRjogja.com, di sawahnya, Kamis (11/3). Menurutnya, dampak kenaikan itu akan lebih dirasakan petani penggarap yang tidak mempunyai lahan di Kabupaten Purworejo. Lanjutnya, petani penggarap memperoleh pendapatan 50 persen dari total gabah yang berhasil dipanen. Selain itu, petani penggarap harus mengeluarkan biaya produksi untuk menanam dan merawat tanaman padi. “Petani penggarap harus keluar biaya sendiri, setelah panen hasilnya dibagi dua atau maro. Apabila pupuk naik, penghasilan makin tidak menentu,” ungkapnya. Kelik menggarap 100 ubin sawah milik tetangganya dengan sistem maro. Saat Musim Tanam (MT) 1 2010, sawah tersebut menghasilkan gabah senilai Rp 1,9 juta. Kelik memperoleh pengnhasilan Rp 850 ribu dari hasil maro. “Pupuk Rp 60 ribu setiap kantong saja, penghasilan hanya Rp 850 ribu, belum dihitung biaya produksi lain. Jadi keuntungannya sangat minim,” imbuhnya. Petani lain, Daryono mengharapkan pemerintah tidak menaikkan harga pupuk urea bersubsidi dalam waktu dekat ini. Lanjutnya, jika rencana dilaksanakan April mendatang, petani akan kesulitan membiayai pemupukan pada MT 2 2010. Pemerintah berencana menaikkan harga pupuk urea bersubsidi 50 persen. Setelah dinaikkan, harga pupuk urea bersubdisi mencapai Rp 90 ribu setiap kantong berisi 50 kilogram.sumber : Kedaulatan Rakyat

Tag:
10/03/2010

Tanggul Sungai Bogowonto Jebol 20 Meter

PURWOREJO- Tanggul sungai Bogowonto di Desa Penungkulan, Kecamatan Gebang, Purworejo jebol sepanjang 20 meter dan menjorok ke persawahan sepanjang 400 meter. Lahan persawahan seluas dua hektare terlimpas dan satu hektare terancam hilang.

Kerugian ditaksir mencapai Rp 200 juta. Plt Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain bersama Kepala Dinas Pengairan Ir Susanto dan Camat Gebang Waluyo, Danramil Gebang, dan aparat desa setempat Selasa (9/3) kemarin mengecek lokasi. Sejumlah warga bekerja bakti dan berusaha memperbaiki kerusakan dengan peralatan seadanya.

Jebolnya tanggul setinggi enam meter itu mengancam bangunan bendung penungkulan yang ada di bawahnya. Di samping adanya aliran dari Sungai Bogowonto, air juga mengalir lewat sawah yang terlimpas dan bisa mengikis bagian samping bendungan tersebut.

Kepala Desa Penungkulan Anang Sugiarto menjelaskan, tanggul Bogowonto itu jebol pada Minggu (7/3) malam setelah terjadi banjir di Sungai Bogowonto.
Petugas UPT Pengairan Priyanto mengungkapkan, pada saat kejadian debit air di Sungai Bogowonto mencapai 170 ribu liter per detik. Padahal, dalam kondisi normal sungai tersebut debit airnya rata-rata hanya berkisar antara 6 hingga 8 ribu liter per detik. Kades Anang mengatakan, sawah yang terlimpas air itu milik 55 kk.

Kepala Dinas Pengairan Susanto mengatakan, kerusakan tanggul itu sudah dilaporkan ke Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO). Plt Bupati Drs H Mahsun Zain mendesak agar BBWSO segera mengirimkan tim untuk mengecek lokasi dan ditindaklanjuti dengan perbaikan.

Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.